Namaku Lila Antasari (20 Novemeber 1998)
Aku asli Malang, makanya mukaku "malang" banget.... karena aku jomblo...haha...JONES (jomblo ngenes)
Tapi gk papa, soalnya itu bukan tolak ukur untuk dapat hidup sukses...ok ! jadi aku gk peduli.... haha
Yang penting itu sekolah...biar pinter...terus sukses deh...Amin
Jadi buat para JOIN(jomblo Indonesia),dengarkan...jangan sia-siakan hidup kalian dengan larut dalam kegalauan karena kalian jomblo, lihatlah sekitar kalian, banyak orang yang peduli pada kalian...termasuk aku... cie... ahay... hahahaha
Jadi,kesimpulannya...
Kalau semua orang bilang kalau aku cantik :) (gak nyambung? ya biarin... yang penting aku happy :))
Oh iya teman-teman aku punya cerpen-cerpen yang mau aku share ke kalian lo... cerpennya sih lumayan asyik... (soalnya aku yang buat... hehe)
Selamat membaca :)
More
1 of 50
Web Clip
|
(no subject)
Attachments area
0 GB (0%) of 15 GB used
©2014 Google - Terms & Privacy
Last account activity: 49 minutes ago
Details | |||||||||||||||
Terima Kasih Kawan Lama.docx
Page 1 of 2
Terima Kasih Kawan Lama
Memang mudah kalau cuma bicara ini ,itu,anu,inu, tapi mereka tidak tahu apa yang
sebenarnya.Selalu mereka bilang jika semua ini terlalu mudah bagiku seolah-olah
hanya mereka saja yang berjuang dan bekerja keras.Mungkin karena aku hidup di
lingkungan keluarga yang intelek.Ayah,ibu dan kakakku,semua berprofesi sebagai
guru.Jadi memang pantas jika mereka bilang aku pasti takkan memiliki masalah
dalam belajarku.
Telingaku selalu terasa panas saat pengambilan rapor semester-an.Saat wali kelas
menyebutkan tiga nama yang meraih nilai tertinggi,dan pastinya aku adalah salah
satu dari tiga nama tersebut,mereka mulai beromat-kamit ”Huh..wajar saja dia selalu
menjadi juara kelas,keluarganya kan guru semua...eh...coba kalau kita...pasti harus
belajar mati-matian dulu.”.Jujur,aku serasa ingin meledak saat mereka bicara seperti
itu.Seolah-olah mereka menganggapku pemalas yang pada saat menjelang UAS
hanya duduk santai melihat televisi sambil makan snack tanpa memikirkan mata
pelajaran apa yang besok diujiankan.Sungguh,mereka tidak tahu apa yang
sebenarnya.
Aku tahu,aku ditakdirkan memiliki kualitas otak yang bisa dikatakan ‘biasa-biasa
saja’.Sebenarnya aku sama seperti mereka,hanya saja keluargaku yang
mendukung.Aku juga butuh belajar dengan giat dan keras.Aku tidak sama seperti
kakakku yang hanya membaca satu kali langsung mengerti dan tersimpan di memori
otakkya.Sungguh itu bukanlah tipeku.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya.Di balik embel-embel guru yang melekat
dikeluargaku,aku merasa depresi.Keluargaku selalu memaksaku untuk menjadi
juara.Aku tahu kalian pasti menganggapnya bahwa itu terdengar bagus,ta[i itu
berbeda dengan apa yang kalian pikirkan.
Aku selalu was-was pada saat pengambilan rapor semester-an.Tak henti-hentinya
bibirku mengucapkan doa semoga aku mendapat posisi pertama,jika tidak,tamatlah
riwayatku,aku pasti akan dianggap sebagai pembuat malu keluarga.Apalagi orang
tuaku selalu membanding-bandingkanku dengan kakakku yang jelas-jelas berbeda
denganku.
Disaat mereka tertidur pulas di balik selimutnya,aku masih sibuk dengan buku dan
pensilku.Itu semua kulakukan untuk menutupi perbedaan jauh dengan kakakku.Jadi
aku benci apabila mereka menganggap anak dari seorang guru tidak pelu susah
payah dalam belajarnnya.Itu salah...salah sekali.
Terkadang pada saat hari libur aku pergi keluar rumah hanya untuk sekadar
refreshing dari buku-bukuku.Kebetulan aku memiliki tiga hari liubur yang mungkin
mereka menganggap itu masih kurang tapi untukku itu adalah liburan panjang dan
lebih dari cukup.Saat aku keluar rumah aku melihat seseorang yang sedang sibuk
entah mencari apa.Orang itu terlihat tidak asing bagiku.Aku mendekatinya hanya
sekadar untuk mengobati rasa penasaranku.Betapa terkejutnya aku saat aku
mendekatinya dan melihat wajahnya,Rini,kawan lamaku yang tidak aku ketahui
bagaimana kabarnya setelah lulus SMP sampai sekarang.
“Rini...lama tak jumpa bagaimana kabarmu?”tanyaku.”Astaga...! kau Ita teman
sebangkuku dulu?kau tampak lebih tinggi sekarang.”jawabnya.”Hahaha...masa’?
perasaan tinggiku ya seperti ini-ini aja.”jawabku.Aku melihat-lihat dirinya yang tanpa
sadar keadaan kawan lamaku berbeda seperti yang dulu,sekarang ia maemakai
baju kusut dan kotor padahal seingatku dulu dia adalah tipe orang yang rapi dan
bersih-an,sekarang di tangannya juga adsa sebuah tonhkat pengait yang aku lihat-
lihat seperti benda yang digunakan pemulung untuk mengorek-ngorek
sampah.Sebelum aku mulai bertanya kenapa ia jadi sepertiu itu, ia langsung
berbicara “Sekarang aku jadi pemulung It.”. Tubuhku terasa diguyur air es.Betapa
terkejutnya aku tiba-tiba melihat kawan lamaku menjadi seperti ini. “Kenapa kau
menjadi seperti ini dan bagaimana sekolahmu Rin?” tanyaku.”Dua tahun lalu
perusahaan ayahku mengalami kebangkrutan It dan terpaksa rumah kami dijual
untuk membayar hutang ayah yang menumpuk danh akibatnya aku pun tidak bisa
sekolah lagi.” Jawabnya. “aku turut prihatin Rin” kataku. Disepanjang jalan kami
saling bercengkrama dan bercerita bagaimana kehidupannya. Aku juga
menceritakan masalahku padanya. Tak terasa sudah tiga jam kami bercerita dan
kulihat langit mulai sore aku pun berpamitan padanya.
Sesampai dirumah aku masih terngiang-ngiang akan perkataannya saat aku
membicarakan masalahku padanya. “Jika aku menjadi mereka pasti aku juga
berkata seperti itu. Kau beruntung It terlahir di lingkungan yang mendukung. Semua
keluargamu guru. Kau dengan mudahnya bisa bertanya soal-soal sulit kepada
keluargamu tanpa dipungut biaya. Coba kau lihat teman-temanmu. Mereka rela
mengorbankan ratusan ribu atau bahkan jutaan hanya untuk dapat masuk di
lembaga bimbingan belajar dan sekarang tengoklah aku, sekarang aku tidak dapat
merasakan bangku sekolah lagi It.”
Ya Tuhan, kini aku sadar bahwa hidup itu terkadang memang tidak selamanya
seperti yang kita inginkan, namun jika kita mau berusaha melihat sisi baiknya kita
mungkin ternyata bisa lebih bahagia di tempat yang Tuhan kehendaki. Disinilah
tempatku, aku terlahir di lingkungan keluarga yang intelek, hareusnya aku bisa
melihat betapa beruntungnya aku. Aku juga bersyukur masih dapat bersekolah
karena aku lihat di belakang ada jutaan atau bahkan miliaran anak yang tak dapat
merasakan bagaimana rasanya bangku sekolah. Kini aku sadar aku tidak akan
menyia-nyiakan kesempatanku...terimakasih kawan lamaku. Kau menyadarkanku.
TAMAT
1 of 2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar